09/08/2014

SEPENGGAL SEJARAH ZAPIN

Zapin masuk ke nusantara sejalan dengan berkembangnya agama Islam 
sejak abad ke 13 Masehi. Para pedagang dari Arab dan Gujarat yang 
datang bersama para ulama dan senimannya, menelusuri pesisir nusantara.
 Di antara mereka ada yang tinggal menetap di tempat yang diminati, 
dan ada pula yang kembali ke negeri mereka setelah perdagangan mereka 
usai. Bagi yang menetap kemudian menikahi penduduk setempat dan 
berketurunan hingga kini.

Zapin, salah satu dari kesenian yang dibawa para pendatang tersebut 
kemudian berkembang di kalangan masyarakat pemeluk agama Islam. 
Sekarang kita dapat menemukan zapin hampir di seluruh pesisir 
nusantara, seperti: pesisir timur Sumatera Utara, Riau dan 
Kepulauannya, Jambi, Sumatera Selatan, Bangka Belitung, Bengkulu, 
Lampung, Jakarta, pesisir utara-timur dan selatan Jawa, Nagara, 
Mataram, Sumbawa, Maumere, seluruh pesisir Kalimantan, Sulawesi 
Selatan, Sulawesi Tengah, Gorontalo, Ternate, dan Ambon. Sedangkan 
di negara tetangga terdapat di Brunei Darussalam, Malaysia dan 
Singapura.

Di nusantara, zapin dikenal dalam 2 jenis, yaitu zapin Arab  yang 
mengalami perubahan secara lamban, dan masih dipertahankan oleh 
masyarakat turunan Arab. Jenis kedua adalah zapin Melayu yang 
ditumbuhkan oleh para ahli lokal, dan disesuaikan dengan lingkungan 
masyarakatnya. Kalau zapin Arab hanya dikenal satu gaya saja, maka 
zapin Melayu sangat beragam dalam gayanya. Begitu pula sebutan untuk 
tari tersebut tergantung dari bahasa atau dialek lokal di mana dia 
tumbuh dan berkembang. Sebutan zapin umumnya dijumpai di Sumatera 
Utara dan Riau, sedangkan di Jambi, Sumatera Selatan dan Bengkulu 
menyebutnya dana. Julukan bedana terdapat di Lampung, sedangkan 
di Jawa umumnya menyebut zafin. Masyarakat Kalimantan cenderung 
memberi nama jepin, di Sulawesi disebut jippeng, dan di Maluku lebih 
akrab mengenal dengan nama jepen. Sementara di Nusatenggara dikenal 
dengan julukan dana-dani.

Zapin dapat ditemui pada helat perkawinan, khitanan, syukuran, pesta 
desa, sampai peringatan hari besar Islam. Umumnya penari zapin hanya 
lelaki. Diringi musik ensemble yang terdiri dari pemain marwas, 
gendang, suling, biola, akordion, dumbuk, harmonium, dan vokal. 
Pola tarinya sangat sederhana dan dilakukan secara berulang-ulang. 
Gerak tarinya mendapat inspirasi dari kegiatan manusia dan alam 
lingkungan. Misalnya: titi batang, anak ayam patah, siku keluang, 
sut patin, pusing tengah, alif, dan lainnya. 

Pertunjukan zapin biasanya ada atraksi dari para penari-penari mahir 
untuk menunjukkan kepiawaiannya dalam berimprovisasi dengan musik 
iringan. Beratus tahun zapin hidup dalam kelompok-kelompok kecil 
masyarakat dan berfungsi sebagai hiburan dan sekaligus penyampaian 
nasehat-nasehat untuk masyarakat melalui pantun dan syair lagunya. 
Kalaupun terjadi perubahan masih dalam denyut evolusi yang mengalir 
secara alamiah. Permasalahan pelestarian tradisi, adat istiadat, 
mengaitkan dengan keagamaan, beberapa faktor yang menyebabkan kurang 
tumbuh dan berkembangnya jenis tari ini. (Sumber : Tom Ibnur)
 














Kuala Enok, 09 Agustus 2014
Keterangan foto :
Diambil pada sebuah perayaan perkawinan di Desa Tanah Merah, yang menghadirkan kesenian 'Zapin' (Penari beserta Musisi Zapin) dari Kabupaten Tanjung Jabung Barat - Kuala Tungkal.
 
Untuk dapat terus menikmati "Gallery Photo Kuala Enok/Tanah Merah",
DONASI Anda di CONTACT
advertisement