18/07/2014

'MENONGKAH KERANG' TRADISI UNIK SUKU DUANU

Ayo Te Kiu Kikik Besamu, Te panti Kikik Menungkan (Ayo Kemari Kita Bersama, Kepantai Kita Menongkah). Itu adalah penggalan dari Tema event Suku Duanu  atau suku laut menyelanggarakan Festival Menongkah Kerang. Event ini adalah event budaya tradisional, yeng sesungguhnya Menongkah Kerang adalah sebuah kegiatan suku Duanu dalam mencari kerang untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Kegitan tahun lalu itu berlangsung dari tanggal 07-09 Juli 2012. Sebelumnya kegiatan ini, telah dilaksanakan di Pantai Bidari Desa Tanjung Pasir Kecamatan Tanah Merah secara besar-besaran dan masuk rekor Museum Rekor Indonesia (MURI) pada tanggal 09 Juli 2008.

Tongkah
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia terbitan Balai Pustaka 1999, Jakarta, Tongkah adalah papan untuk tumpuan (titian) biasanya dipasang ditempat becek atau basah. Oleh Komunitas Duanu (Orang Laut) Indragiri Hilir – Riau, Tongkah adalah salah satu alat bantu yang tergolong unik yang digunakan untuk mencari/menangkap “KERANG DARAH” (Anadara Granosa) Tiangan dalam dialek Duanu. Sedangkan aktifitasnya disebut menongkah (Mut tiangan – dalam dialek Duanu atau Mud Ski atau Ski Lumpur).

Menongkah Kerang adalah teknik suku Duanu dalam menangkap kerang di padang lumpur. Kegiatan ini adalah dengan menggunakan sebilah papan sebagai tumpuan sebelah kakinya dan tempat mengumpulkan kerang yang telah didapatkan. Sementara sebelah kakinya lagi adalah sebagai pengayuh tongkah. Sebuah Tongkah biasanya terbuat dari belahan kayu besar dalam keadaan utuh, tetapi tidak jarang juga tongkah terdiri dari gabungan dari belahan papan. Panjang Tongkah rata-rata 2 M s/d 2,5 M dengan Lebar 50 Cm s/d 80 Cm dan ketebalan 3 Cm s/d 5 Cm.
Tongkah umumnya terbuat dari jenis kayu Pulai dan Jelutung dan lain-lain, kedua ujung Tongkah berbentuk lonjong (lancip) dan melentik keatas, hal ini dimaksudkan agar pergerakannya dapat lancar dan bila kurang melentik seringkali Tongkah menghujam atau menancap kedalam lumpur, bentuk Tongkah secara umum seperti papan selancar yang sering digunakan oleh olahragawan air (Peselancar).
Pemandangan langka ini (menongkah) hanya bisa ditemui di pemukiman Suku Laut atau Suku Duanu di Kecamatan Tanah Merah dan Kecamatan Concong.

Suku Laut atau Duanu
Aktifitas menongkah merupakan pekerjaan spesifik dari pada Komunitas Duanu dan dilakukan secara tradisional. Keberadaan menongkah pada umumnya tidak dapat dipisahkan dengan keberadaan Komunitas Duanu. Menurut catatan sejarah, keberadaan Orang Laut (Duanu) yang juga termasuk RAS PROTO MALAY (Golongan Melayu Tua) di Riau diperkirakan pada tahun 2500 SM s/d 1500 SM, dan pada masa Kerajaan Melaka – Johor kebeadaan Orang Laut (Duanu) sebagai orang kerahan pada tahun 1511 – 1528 dengan Rajanya Sultan Mahmudsyah I.

Gigih Tanpa Henti Memperkenalkan Duanu dan Menongkah Kerang
“Masyarakat duanu itu pada umumnya adalah sebagai nelayan dan mereka adalah nelayan tangkap. Menjaring, merawai, dan menongkah dengan alat tangkap tongkahnya. Suku Duanu atau Suku Laut termasuk masyarakat yang berpindah-pindah atau nomaden, dari satu tempat ketempat yang lain dari satu pulau kepualau yang lain, dari satu ceruk ke ceruk yang lain dalam kerangka untuk memenuhi kehidupan mereka sebagai nelayan”. Ujar Sarpan Firmansyah (Ketua Keluarga Besar Duanu Riau) yg bermukim di Kec. Tanah Merah.

Menongkah itu adalah sebuah aktifitas unik, atau khusus yang dimiliki oleh masyarakat duanu atas pulaunya. Dalam rangka menangkap atau mencari kerang, khsusnya kerang darah atau kerang darat. Dan kekhusussan ini tidak dimiliki oleh komunitas-komunitas lain.  dan ini hanya ada pada masyarakat duanu, dimana mereka menongkah dengan sekeping papan diatas hamaparan pantai yang sangat becek dan cukup licin sekali.

“Kebudayaan menongkah itu merupakan warisan budaya dunia. Dan kalau kita berbicara Indragiri Hilir sebagai kabupaten, Menongkah ini merupakan asli kebudayaan Indragiri Hilir. Dan harapan kita kebudayaan menongkah yang kita kemas dalam sebuah event ini bisa menjadi event wisata tahunan atau masuk didalam kalender wisata tahunan, baik Kabupaten maupun Propinsi”. Kata sarpan lagi.
Jerman salah satu negara yang menyelenggarakan Olimpiade lumpur, itu sangat erat sekali hubungannya dengan kegiatan menongkah. Karena menongkah hamparannya juga pantai berlumpur. Jadi kita berharap tongkah ini bisa juga dikenal oleh masyarakat dunia Internasional. Kalau mereka sudah dikenal masayarakat Internasional otomatis Duanu juga dikenal.

Masih dalam keterangan Sarpan, Duanu itu berharap harus ada kelestarian lingkungan terutama lingkungan untuk menongkah. Kalau lingkungan ini tidak dilestarikan, maka aktifitas menongkah ini sangat sulit sekali. Karena bisanya di Duanu untuk menongkah adalah untuk mendapatkan kerang yang banyak. Untuk saat ini sudah sedikit. Karena hamparan ini terganggu oleh alat tangkap aktif, sehingga tanahnya mengalalami degadrasi bergelombang-gelombang sehingga ini berpengaruh proses penangkapan dan terkait pada produksinya.

@Gurindam12.com (diolah dari berbagai sumber).
untuk melihat videonya silahkan klik tautan ini:
http://www.gurindam12.com/2012/07/catatan-perjalanan-menongkah-kerang-3.html
Sumber Photo : google
Kuala Enok, 18 Juli 2014


Untuk dapat terus menikmati Gallery Photo Kuala Enok/Tanah Merah,
DONASI Anda di CONTACT
advertisement